NASEHATI DIRIMU
Coba kalian lihat laki-laki di persimpangan itu, dia berdiri tepat di bahu jalan, diantara arah yang berlawanan, diantara tanda menuju kiri atau kanan. Dia masih berdiri di situ, dilihatnya rupa-rupa kerikil tajam di sepanjang perjalanan, sambil sesekali ia menerawang, seakan mulai menimbang-nimbang sebuah keputusan. Coba kalian lihat dia mulai berjalan, berjalan menuju suatu arah yang tak di sebutkan.
Kini, teringat oleh ku akan sebuah obrolan dengannya suatu malam kala itu, obrolan yang berlangsung sebelum kami kini ada dalam situasi ini,
“ wahai kawan, tidak kah kau rasa aku sedikit tak seperti biasanya??” katanya kala itu.
“ ya, apa yang sesungguhnya terjadi padamu, ceritakan lah…” aku mencari tahu.
“………………….”
“ayo lah ceritakan padaku, jangan hanya diam. Apa yang terjadi padamu???”
“ apa benar aku harus bercerita ???”
“tentu saja, aku temanmu kawan, sahabatmu, ceritakan lah semuanya..”
“ sesungguhnya kau salah, tidak ada kata semuanya, seperti yang kau maksud itu”
“jadi..??”
“aku kecewa pada diriku, itu saja..”
“apa maksudmu??”
“Pernah kah kau berharap terlalu banyak pada sesuatu??”
“tentu saja, apa ada masalah dengan hal itu”
“ya tentu saja ada,….suatu hari, aku menaruh begitu banyak harapan pada sesuatu, hingga aku meyakini sesuatu itu sebagai masa depan kehidupan ku kelak, hingga realita menghapus semua harapan itu menjadi abu”
“……………….”
“ seandainya aku tak seperti itu dulu, tak pernah menaruh harapan begitu tinggi pada sesuatu itu, tidak memandangnya sebagai ratu, tidak meletakkannya terlalu jauh, seandainya…………dan seandainya kawan………….pasti aku tak kecewa pada diriku”
“apa maksudmu, aku sama sekali tak mengerti, jangan lah kau pakai bahasa yang sulit ku mengerti itu…”
“sesungguhnya kau pasti mengerti kawan, karena kau sebenarnya adalah diriku!! Itu lah kenapa aku mau bercerita padamu, aku berharap aku mendapat jawaban dari mu, karena jawaban itu ada di dalam diriku, di dalam dirimu, karena sekali lagi, kau adalah aku!!!”
“?????????????”
santai, boi, santai. gak kesampean itu rasanya biasa aja. kalo yang gw liat-liat, hidup gak dibagi menjadi proses-hasil. semuanya cuma proses terus-menerus. atokah gw yang gak bisa membedakan hasil dg proses?
Jundurrahman Assayyaf - March 3, 2010 at 9:09 am |
emang bener boi kaya gt,..yg ga enak itu adalah saat kita menanggapi kesemuanya itu lewat rasa yg kita rasa,..
ageng budi daya - March 4, 2010 at 10:22 am |